Browse By

Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir, AS Pertimbangkan Kendali Penuh Atas Selat Hormuz

Presiden Donald Trump klaim perang AS-Israel melawan Iran hampir selesai. AS sekarang mempertimbangkan untuk ambil alih Selat Hormuz. Foto/White House

WASHINGTON, Kabarmataram News. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan mengejutkan terkait dinamika konflik di Timur Tengah. Trump mengklaim bahwa konfrontasi militer dengan Iran saat ini sudah “hampir selesai” dan pihak Washington kini tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk mengambil alih kendali penuh atas Selat Hormuz.

Langkah ini diambil guna memastikan keamanan jalur distribusi energi global yang selama ini sering terganggu oleh ketegangan antara Teheran dan sekutu Barat.

Visi Trump: Akhiri Perang dengan Kendali Jalur Minyak Dunia

Dalam keterangannya, Trump menegaskan bahwa tekanan militer dan ekonomi yang dilakukan AS selama beberapa waktu terakhir telah melemahkan posisi Iran. Menurutnya, pengambilalihan Selat Hormuz—jalur air paling krusial bagi ekspor minyak dunia—adalah solusi jangka panjang untuk mengakhiri ancaman dari Teheran.

“Perang ini hampir berakhir. Kita telah melakukan pekerjaan luar biasa. Sekarang, kita harus memastikan bahwa urat nadi energi dunia (Selat Hormuz) berada di bawah kendali yang tepat agar tidak ada lagi pemerasan terhadap dunia,” ujar Trump di Gedung Putih.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Vital?

Selat Hormuz merupakan titik krusial (chokepoint) bagi perdagangan global dengan beberapa fakta penting:

  • Volume Distribusi: Sekitar 20–30% dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur ini setiap hari.
  • Jalur LNG: Qatar, sebagai pengekspor gas alam cair terbesar, sangat bergantung pada selat ini untuk mengirimkan pasokannya.
  • Keamanan Energi: Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara instan.

Reaksi Internasional dan Risiko Eskalasi Baru

Rencana AS untuk “mengambil alih” atau memperketat kendali di Selat Hormuz langsung memicu reaksi keras. Iran sebelumnya telah berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut jika kedaulatan mereka terusik oleh kekuatan asing.

Analis geopolitik memperingatkan bahwa langkah Trump ini bisa menjadi pedang bermata dua:

  1. Provokasi Militer: Iran kemungkinan besar akan merespons dengan pengerahan pasukan laut IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps).
  2. Krisis Harga Energi: Kekhawatiran akan blokade dapat memicu inflasi global karena biaya logistik dan bahan bakar yang meroket.
  3. Hukum Internasional: Upaya pengambilalihan kontrol secara sepihak dapat dianggap melanggar konvensi laut internasional oleh PBB dan negara-negara Teluk lainnya.

Dampak bagi Pasar Global dan Indonesia

Jika klaim Trump benar bahwa perang segera berakhir, pasar global mungkin akan melihat stabilitas dalam jangka pendek. Namun, wacana kendali atas Selat Hormuz menciptakan ketidakpastian baru.

Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz sangat sensitif terhadap harga BBM nasional. Sebagai negara importir minyak, gangguan pada jalur ini akan memaksa pemerintah untuk meninjau kembali skema subsidi energi guna menjaga daya beli masyarakat.